 | MELANGKAH JEJAK KEBANGKITAN INDONESIA... | Jun 10, 2008 |
Selamat datang rekan sekalian... Selamat berbagi persaudaraan, pemikiran dan pergerakan... Mari bangun Indonesia agar adil sejahtera... Menjadi soko guru peradaban dunia... SALAM DAHSYAT! INDONESIA LUAR BIASA!!! Ketika dulu belajar psikologi, penulis mengenal istilah yg biasa disebut dgn “halo effect”, yaitu suatu cara pandang terhadap sesuatu yg nonfisik berdasarkan ciri-ciri fisik tertentu, padahal itu menipu. Halo sendiri bisa diartikan sebagai sempurna, lengkap dan suci (holy). [Di dalam ilmu astronomi kita mengenal halo matahari, yaitu lingkaran cahaya yg mengelilingi matahari, padahal lingkaran itu semu. Di dalam kepercayaan Kristiani juga digambarkan seorang malaikat memiliki lingkaran halo di atas kepalanya sebagai tanda kesucian.] Artinya, kita memandang/menganggap seseorang sempurna, lengkap bahkan suci karena tampilan fisiknya mengindikasikan ke arah itu, padahal itu tipuan. Kita ambil contoh misalnya kita bertemu dgn seorang pemuda ganteng yg mengenakan pakaian jas berdasi dgn sangat elegan dan rapi. Karena biasanya yg berpakaian seperti itu adalah orang yg berpendidikan tinggi dan memiliki prestis sosial tertentu, maka lantas kita berpandangan bahwa pemuda ganteng yg kita lihat tadi pasti orang berpendidikan tinggi dan 'orang penting'. Tapi, setelah ditelusuri lebih lanjut, ternyata si pemuda tadi hanya lulusan SD dan dia tidak memiliki prestis sosial tertentu. Jadi, tidak sesuai antara ciri-ciri fisiknya (berpakaian rapi) dgn realitas sebenarnya (berpendidikan rendah). Kemudian berkaitan dgn PKS, selama ini kita memandang kader-kadernya adalah orang-orang yg santun, baik, ramah, tidak jahat, shalih, militan, peduli dan empati terhadap orang lain, pintar, berwawasan, banyak hafalan al Quran-Hadits, cerdas meskipun tidak berpendidikan tinggi, dst. Sedangkan ciri-ciri fisik mereka biasanya untuk laki-laki berjenggot, rambut rapi, dahi ada bekas hitam, berpakaian yg sopan, murah senyum, terkadang celana ngatung, biasanya membawa mushaf (mushaf beneran atau handphone), berjilbab panjang untuk perempuan, dst. Nah, ketika ada kadernya yg berpenampilan fisik seperti itu, kita langsung beranggapan bahwa si kader tersebut benar-benar shalih seperti gambaran di atas, padahal belum tentu. Misalnya, kita bertemu dgn seorang kader PKS berjenggot, murah senyum, santun, dst., kita langsung beranggapan bahwa ia benar-benar shalih dan ta'at kepada Allah dan RasulNya, hafalan al Quran minimal 5 juz, militansi tinggi, selalu menjaga hati-mata dan lisannya dari urusan wanita, paham hukum-hukum syari'at, binaannya banyak, sering mengisi ta'lim umum. Padahal itu semua hanyalah tipuan, entah disengaja atau tidak oleh si pelaku. Ternyata kader tersebut tidak banyak hafalannya, binaan tidak punya, hukum-hukum syari'at juga tidak terlalu paham (masuk golcap=golongan ngecap; seolah-olah tahu banyak, ternyata tidak, ngecap melulu, padahal syari'at bukan hal enteng, bukan seperti politik yg siapapun boleh menafsirkan), sering tidak menjaga hati-mata-lisan dari wanita (mudah tergoda hatinya, mata yg jelalatan dan lisan yg suka membicarakan/'syahwatul kalam' hal-hal yg berkaitan dgn cinta kepada lawan jenis atau membicarakan si wanitanya sendiri), tidak ringan tangan membantu orang, sering shalat terlambat, malas membaca al Quran, sering melawan orang tua, dst. Memang kita tidak boleh terlalu gegabah dan terburu-buru untuk mengatakan bahwa kader yg berperilakuan seperti di atas itu buruk. Kita juga harus memahami bahwa setiap kader membawa 'masa lalunya yg gelap/jahil' ke dalam tubuh PKS. Tapi, bukan berarti 'masa lalu' itu boleh dilanggengkan di tubuh jama'ah, 'masa lalu' itu harus dikikis sebisa mungkin, dengan bertahap tentunya. Kalau belum bisa mengikisnya, sebaiknya jangan mengumbar 'masa lalu' kita itu ke dalam jama'ah, lakukan saja sendiri. Bahasa mudahnya, kalau terpaksa mau berbuat dosa, lakukanlah sendiri, jangan mengajak orang lain. Dosa yg dilakukan secara bersama-sama jauh lebih berbahaya dibandingkan dosa yg dilakukan secara sendirian! Dosa berjama'ah itu memiliki efek sosial politik. Ada yg 'masa lalunya' senang membicarakan perempuan, ketika masuk ke PKS, janganlah itu diumbar ke kader yg lain, bisa menular. Kikislah sebisa mungkin. Kalau tidak bisa, jangan ajak orang lain. Contoh lain, misalnya ada kader yg sering mengenakan celana gunung/lapangan/kepanduan. Ia sangat aktif mengikuti demonstrasi. Untuk yg satu ini dia tidak pernah absen. Kalau demo, seolah-olah dia paling bersemangat, teriakannya paling keras, posisi pun selalu di depan barisan. 'Subhanallah, militan sekali dia.' Begitu anggapan kita, tapi ternyata dia sering absen halaqah, kuliah/kerjanya berantakan, keluarga tidak terurus, dst. Apakah ini yg namanya militan? Bukankah militansi itu dinilai dari keta'atan kita kepada Allah, RasulNya dan ulil amri? Bisa saja kader tersebut memang hobinya demonstrasi. Ada juga kader yg selalu ikut mukhayam berkali-kali, karena memang dia hobinya naik gunung. Apakah serta merta kader tersebut militan? Belum tentu. Meskipun hobi demo dan naik gunung itu jauh lebih baik dari pada hobi menggosipi orang. Menurut penulis, militansi itu tidak diukur dari sesuatu yg menyenangkan/hobi. Militansi atau tidak seorang kader akan terukur ketika ia harus melakukan sesuatu yg tidak disukainya, padahal secara syar'i dan jama'i memang ia harus melakukannya. Jika ia melakukannya, insyaAllah ia memang militan, tapi jika tidak, berarti ia bukan militan tapi milihan (suka milih-milih). Contoh lain tentang halo effect, penulis ketengahkan permasalahan yg lebih makro. Kader-kader PKS selama ini dicirikan oleh masyarakat sebagai orang yg shalih, intelek, berpendidikan tinggi, cerdas, jujur, bersih dari KKN, dst. Dengan ciri-ciri seperti ini, masyarakat berpandangan bahwa ketika kader PKS memegang amanah baik di strata terendah sampai tertingi (RT, RW sampai presiden), mereka akan bekerja secara profesional, kompeten dan memuaskan. Selama ini kader PKS identik dengan partai mahasiswa. Karena mahasiswa itu pintar, pasti negara ini akan maju kalau dikelola oleh mahasiswa yg pintar dan shalih, yaitu kader PKS, ini pandangan masyarakat. Tapi, apakah benar demikian? Apakah PKS yg jumlah kadernya mencapai 800.000-an orang se-Indonesia (data tahun 2007) dan 300-an di antaranya adalah doktor (lulusan S-3) mampu mengelola negara ini dengan Bersih, Peduli, Profesional? Apakah ini hanya halo effect saja? Pada tulisan beberapa edisi yg lalu, penulis pernah mengharapkan bahwa PKS suatu saat nanti bisa memenangkan Pemilu (2014 atau 2019) dgn meraih minimal 50% suara seperti HAMAS Palestina (meraup 57% suara) dan mampu mengelola negara dgn profesional seperti AKP (Adalet ve Kalkinma Partisi) di Turki. Tapi, hal ini sangat berat, apalagi jika tingkat profesionalitas itu berbanding lurus dgn HDI (Human Development Index). HDI Indonesia tahun 2007-2008 berada di peringkat ke-107 dengan nilai 0.728 di bawah Palestina yg bertengger pada peringkat ke-106 dgn nilai 0.731. Peringkat HDI tertinggi diraih oleh Iceland dgn nilai 0.968. Turki sendiri ada pada peringkat ke-84 dgn nilai 0.775. Nah, kalau HDI Palestina yg lebih tinggi dari Indonesia saja profesionaltas kader HAMAS-nya dinilai kurang dalam hal pengelolaan negara, apalagi penduduk Indonesia, apalagi kader PKS... Ataukah karena Palestina negeri perang sedangkan Indonesia bukan, maka tidak bisa dibandingkan? Wa Allahu A'lam. Kita harapkan yg terbaik. Solusinya, ayo berjuang tingkatkan HDI orang Indonesia, minimal seperti HDI Turki! Demikianlah gambaran halo effect, yg kita semua berharap hal ini tidak menjadi fenomena/tren, biarlah ia menjadi kasus kecil. Tulisan ini pun bukan untuk menggeneralisasi kader PKS. InsyaAllah, secara kualitatif, sebagian besar kader PKS tidak menjadi virus halo effect. InsyaAllah kader PKS yg menjadi virus halo effect sifatnya kasuistik, tidak banyak, tapi secara kuantitatif, memang harus dikaji lagi berapa besaran persentasenya. Virus ini bisa berpotensi menjangkiti siapa pun kader PKS itu, termasuk juga mungkin penulis. 'Ala kulli hal, terlepas dari itu semua, patutlah kita renungkan sebuah do'a yg disampaikan oleh Imam 'Ali ibn Abi Thalib r.a. : "Ya Allah, janganlah Engkau hukum aku karena apa yg mereka katakan/sangkakan tentang aku. Berikanlah kebaikan padaku dari apa yg mereka sangkakan kepadaku. Ampunilah aku karena apa yg tidak mereka ketahui tentang diriku." Renungkan juga ungkapan ini : "Buat apa kita membuka-buka dan mengorek-ngorek aib kita padahal Allah sendiri sudah Menutupi dan Menyembunyikannya?....." (a2i) “Aku benci Hasan al Banna, Yusuf al Qaradhawy, Ikhwanul Muslimin.” Begitulah pemikiran dan perkataan yg beberapa kali terlontar dari pikiranku. Memang dulu aku benci sekali terhadap Hasan al Banna, Yusuf al Qaradhawy, dan Ikhwanul Muslimin. Aku menganggap gerakan dan pemikiran mereka tentang Islam terlalu lembek. Kebencianku ini berawal pada saat aku masih kelas 1 SMU sekitar Cawu I dan II. Pada saat yg sama, aku tertarik dgn pemikiran salafi. Aku banyak membaca buku-buku ulama salafushshalih dan ulama salafy. Dari situlah pemikiranku terhadap Islam terbentuk, yaitu Islam menurut salafi. Sampai kelas 2 SMU aku sampai “berhasil” memicu penghilangkan tradisi peringatan Isra' Mi'raj dan Maulid Nabi di SMA-ku. Sampai tulisan ini dibuat tidak ada lagi peringatan Maulid Nabi dan Isra' Mi'raj di SMA-ku. Kenapa aku dulu menghilangkannya? Karena menurut pemikiran salafi, hal itu adalah bid'ah yg sesat. Itulah salah satu hasil kerja dari pemikiran salafi-ku yg hitam-putih. Sampai suatu ketika, tepatnya pertengahan kelas 2 SMA, ada seorang teman yg menunjukiku sebuah buku utk aku baca. Buku itu berjudul Fiqh Da'wah karangan Jum'ah Amin Abdul Aziz. Buku ini menjelaskan bagaimana seharusnya kita berda'wah, menurut pemikiran Ikhwanul Muslimin. Tiba-tiba aku tertarik dgn buku tersebut, aku habiskan buku setebal kurang lebih 500 halaman itu. Tiba-tiba pula pemikiranku berubah, mengalami turning-point, titik balik, yang tadinya aku hitam-putih menjadi fleksibel. Pandangan kebencianku terhadap Hasan al Banna pun mulai berubah menjadi simpati. Seiring dgn berjalannya waktu, aku terus “berkelana” mencari Islam, aku ingin tahu banyak. Jadi, meskipun aku sudah simpati dgn Ikhwanul Muslimin, tapi aku tetap “terbuka” terjun ke harakah-harakah Islam yg lain. Aku beberapa kali mengikuti kajian-kajain ekslusif salafi (kebetulan abang sepupuku orang salafi, dan aku sering diajak). Pernah di salah satu kajian salafi aku menyaksikan sendiri bagaimana komunitas salafi “mencibir” da'wah dan pemikiran Ikhwanul Muslimin dan Partai Keadilan (PK). Mereka katakan bahwa Fi Zhilalil Quran itu sesat, jangan dibaca, ada syiriknya pd tafsir Surah al Ikhlash. Juga menjelek-jelekkan kiprah PK pd saat itu. Selain itu, aku juga mengikuti harakah lain, yaitu Jama'ah Tabligh. Aku beberapa kali ikut acara mereka, baik tabligh, mudzakarah, diskusi, bahkan aku sempati ikut kajian rutin mereka di Masjid Kebon Jeruk setiap hari kamis malam Jumat, meskipun aku belum pernah sampai ikut khuruj. Jangan lupa, ketertarikanku dgn Ikhwanul Muslimin tadi bukan hanya ketertarikan secara teori. Aku kemudian banyak membaca pemikiran-pemikiran Ikhwanul Muslimin. Aku dulu sangat rajin mengikuti kajian-kajian yg dibuat oleh para ikhwah senior. Salah satu kajian yg paling sering aku ikuti, kalau tidak dikatakan sellau, adalah kajian bulanan/bedah buku di Masjid UI Salemba. Kajian ini mengupas pemikiran2 da'wah Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, dst. Pembicara-pembacaranya pun lintas harakah. Pesertanya banyak, kebanyakan mahasiswa. Aku sngat rajin. Tapi sayang, sekarang kajian tu sudah tidak ada lagi. Sampai ketika aku kelas 3 SMA aku masuk kelas IPS. Nah, karena IPS inilah aku kemudian merasa tertuntut utk mebaca buku-buku Islam tentang sosial dan politik. Akhirnya kubaca buku Muqaddimah Ibnu Khaldun, Fiqh Daulah dan Ahkam Shulthaniyyah. Aku juga mebaca buku-buku politik dan sosial yg sekular. Aku baca buku Wawasan Pemikiran Politik Barat. Pada waktu yg bersamaan, aku juga “bersentuhan” dgn gerakan Negara Islam Indonesia/NII KW9, meskipun bukan terlibat secara langsung, tapi bersentuhan secara pemikiran. Perlu diketahui juga bahwa pd saat kelas 3 ini pula aku mulai “dilibatkan” di PK dgn cara yg unik (yg ini lain kali aja ceritanya yah...). Pada saat kelas 3 ini pulalah aku mulai terjun ke masyarakat. Aku memulainya dari masjid. Aku sangat rajin ikut kajian-kajian umum di masjid dekat rumah. Masjidku in bercorak NU, jadi aku secara langsung atau tidak juga bersentuhan dgn pemikiran NU. Aku juga berkecimpung di dunia “habib”, beberapa kali aku ikut kajian-kajian habib di dekat rumah. Aku jadi tahu sedikit banmyak tentang kehabiban dan ke- NU-an. Ketika aku masuk kampus, aku berkenalan dgn pemikiran-pemikiran yg lebih beragam. Di saat kuliah inilah aku belajar pemikiran-pemikiran sosialis, marxis, komunis, kiri Islam, kapitalis, liberal, dst. Aku juga bersentuhan dgn metamorfosis gerakan NII/Darul Islam (bukan yg KW 9). Sampai saat ini pun aku masih “nimbrung” di komunitas mereka, yg menamakan dirinya gerakan ANTI-SEPILIS (ANTI SEKULERISME, PLURALISME, LIBERALISME). Dan jangan kaget juga, kini aku juga “nimbrung'” di kalangan liberal Islam. Aku sering ikut acara/diskusi JIL, kebetulan juga aku sedang bekerja di situ. Aku sedang mempelajari pluralisme dan demokrasi liberal dalam konteks keIndonesiaan. Hingga saat ini... Flash back.... Dulu waktu aku kecil di Yogya, aku “besar” di lingkunagn Muhammadiyyah. Aku sekolah TK di Masjid Syuhada yg jelas-jelas Muhamadiyyah. Sewaktu SD juga aku sering ikut acara-acara dari kakak-kakak orang Muhmmadiyyah, baik di sekolah atau di lingkungan rumah. Pada waktu kecil itu pulalah aku “besar” di lingkungan Kristen. Aku punya kakek-nenek yg beragama Kristen. Waktu aku SD kelas 2-3, aku sering diajak acara “persekutuan” atau ke gereja, bahkan aku beberapa kali diajak retreat, meskipun aku pada saat itu tetap anak muslim. Aku juga sering berdebat ttg Kekristenan dgn teman ku.. Nah, kini aku telah meneguhkan pijakan kaki di Ikhwanul Muslimin. Dengan “pengembaraan”ku yg sedemikian rupa di atas, aku sudah merasa sangat mantap berada di jama'ah harakah ini IM, yaitu PKS. Jadi, ketika aku terlihat seperti “fanatik” kepada PKS, maka ini adalah pilihan jalan hidupku setelah mengenal dan bersentuhan dgn berbagai harakah Islam. Aku merasa beruntung diberi ni'mat Allah menjadi seorang anggota PKS. Tanpa berniat merendahkan harakah-harakah yg lain karena masing2 harakah punya kelebihan dan kekurangan, ternyata PKS menurut pengalamanku sejak kecil, memiliki kelebihan dibanding harakah-harakah yg lain. Manjah PKS jelas, tegas, moderat, progressif, komprehensif, super modern, berorientasi membangun (bukan mengahncurkan an sich), dst. Meskipun aku juga yakin jama'ah PKS ini juga punya banyak kekurangan. Tapi, kekurangan-kekurangan itu bukan pada manhaj atau ideologinya, tapi lebih kepada faktor manusianya atau faktor 'amaliyyahnya. Jadi, jangan disamakan. Kalau kekurangan ada pada manhaj atau ieologi, maka itu kekurangan yg sifatnya fundamental dan vital. Tapi kalau kekurangan itu ada pd faktor manusianya, itu kekurangan yg sifatnya teknis, tidak vital, masih bisa diperbaiki. Yang namanya strategi itu bisa tepat atau tidak khan (bukan benar atau salah)? Kalau manhaj, mungkin, bicara benar atau salah... Oleh karena itu, jika ada teman-teman yg baru gabung ke PKS kemarin-kemarin kemudian melihat koq sepertinya aku “fanatik” kepada PKS, tentunya tidak bisa disandingkan : aku memilih PKS setelah mengenal dan bersentuhan dgn harakah-harakah yg beragam, bukan karena baru gabung ke PKS kemarin sore... Kalau dibilang fanatik, tunggu dulu. Apa definisi fanatik di sini? Kalau fanatik buta, seperti melihat dgn kaca mata kuda, sungguh aku bukan seperti itu. Tapi kalau fanatik maksudnya aku yakin bahwa PKS -lah yg paling tepat dan layak untuk hidup-matiku (maksudnya memperjuangkan Islam), maka betul aku fanatik. Logikanya sederhana : Aku berjuang dgn PKS hidup-mati karena aku yakin, kalau aku tidak yakin buat apa aku berjuang melalui PKS? Aneh kalau ada orang yg berjuang melalui PKS tapi dia sendiri tidak yakin dgn jalan da'wah dan pemikiran PKS? Suatu keanehan yg sangat jelas. Jika ada yg mengatakn/mengingatkn bahwa PKS itu adalah washilah/sarana, pengingatan ini aku hargai, terima kasih. Tapi dlm konteks da'wah kini, pengingatan slogan “partai hanyalah wadah bukanlah tujuan”, menurutku sudah basi. Maksudnya, aku tidak akan lupa koq dgn slogan ini. Aku sudah sgt memahaminya sejak SMA dulu, sampai sekarang pun aku tetap memahami seperti itu. Seharusnya sekarang kita sibuk dgn slogan “Menjadikan Indonesia negara yg Madani yg diRidhai Allah SWT”, bukan sibuk dgn slogan “Partai hanya wadah” (tantangan dan jiwa zamannya sudah beda, boss).. “Ya ALLAH jangan Engkau cabut ni'mat ini setelah Engkau memberikannya kepadaku...” Demikian.... kenapa aku “betah” di PKS... Anekdot pertama. Suatu ketika, diadakanlah lelang otak manusia. Kontestannya ada 3, yaitu otak orang Jepang, Jerman dan Indonesia. Setelah melewati proses yang panjang, akhirnya diputuskan bahwa lelang termahal jatuh pada otak orang Indonesia. Koq bisa? Bukankah otak orang Jepang dan Jerman pintar-pinar? Seharusnya otak merekalah yang dibayar mahal. Kenapa malah otak orang Indonesia? Bukankah otak orang Indonesia bodoh-bodoh? Lho, justeru itu, karena selama ini otak orang Jepang dan Jerman sudah kebanyakan dipakai untuk berpikir, maka memori otaknya mungkin sudah penuh, kalau dijual pasti tidak laku. Otak orang Indonesia jarang dipakai untuk berpikir, makanya masih segar, memorinya juga relatif masih kosong, kalau dijual pasti laku. Seperti kalau kita beli flashdisk, yang laku tentu yang masih kosong khan? Anekdot kedua. Ada 3 orang korban kapal karam. Yang 1 orang Amerika, yang satunya lagi orang Jerman, dan yang terakhir orang Indonesia. Mereka terdampar di sebuah pulau terpencil yang tak berpenghuni. Mereka menemukan sebuah botol yang ternyata di dalamnya ada jin. “Wahai manusia”, kata jin, “kalian telah mengeluarkanku dari botol ini. Sebagai ungkapan rasa terima kasihku, aku akan mengabulkan 3 permintaan kalian.” Orang Amerika berkata : “Di negaraku aku memiliki istana dan perushaan-perusahaan yang megah dan maju. Aku tidak mau mati terdampar di pulau ini, pulangkanlah aku ke negaraku! Jawab jin : “Oke!” Seketika melesatlah si orang Amerika pulang ke negaranya, Wuss! Kemudian orang Jerman juga sama, ingin dipulangkan ke negaranya, karena ia punya amanah besar sebagai seorang ilmuwan di Jerman. “Oke!” kata jin. “Wuss!” Melesatlah orang Jerman ke negaranya. Akhirnya tiba giliran orang Indonesia : “Kalau aku, di Indonesia aku tidak punya rumah yang permanen. Aku juga sudah tidak punya famili. Negaraku juga kacau balau, oranya bodoh-bodoh, miskin, terbelakang, tingkat kriminalitas tinggi, KKN merajalela. Sejak kecil aku dididik “makan nggak makan asal kumpul”. Jadi permintaanku, tolong 2 orang temanku tadi dikembalikan lagi ke sini, supaya aku bisa kumpul-kumpul lagi dengan mereka.” Maka, didatangkanlah si orang Amerika dan Jerman kembali ke pulau tersebut. “Wuss!” Anekdot ketiga. Terdapatlah presiden Bush, Zirac, dan Gus Dur yang sedang menaiki sebuah pesawat mengelilingi dunia. Bush berkata : “Kita sekarang berada di atas negaraku Amerika.” Zirac berkata : “Koq bisa tahu?” Jawab Bush : “Kujulurkan tanganku ke luar jendela dan aku dapat memegang patung Liberty.” Tak lama kemudian Zirac juga berkata : “Sekarang kita ada di atas negaraku Perancis”. Tanya Bush : “Koq bisa tahu?” Jawab Zirac dengan bangga : “Ini, kujulurkan tanganku dan aku bisa memegang puncak menara Eiffel.” Gus Dur tidak mau ketinggalan : “Sekarang kita ada di atas negaraku Indonesia, Jakarta lebih tepatnya di Tanah Abang.” Bush dan Zirac heran : “Koq Anda bisa tahu detail?” Jawab Gus Dur : “Ini, kujulurkan tanganku, tiba-tiba jam tanganku hilang dicopet orang! Gitu aja koq repot...” Anekdot keempat. Terdapatlah seekor gajah yang dipelihara oleh seorang pengusaha kaya. Tapi ia dibuat pusing oleh si gajah. Pasalnya, si gajah tertawa terus tidak bisa diam. Berbagai macam cara telah dilakukan agar si gajah bisa memangis, tapi selalu gagal. Akhirnya si pengusaha mengadakan “Kontes Gajah Menangis”. Pemenangnya adalah siapa yang bisa membuat si gajah menangis. Kontestan pertama dari Amerika menceritakan sebuah kisah yang sangat-sangat menyedihkan dan menyentuh hati. Tapi hal ini bukannya membuat si gajah menangis, si gajah malah bengong tanda tidal mengerti. Gagallah kontestan pertama. Kemudian kontestan kedua dari India, menyanyikan lagu yang sangat menyayat hati. Tapi si gajah malah tertidur pulas. Gagal pulalah ia. Kemudian kontestan ketiga dari Indonesia, maju mendekati si gajah. Lalu kontestan Indonesia tersebut membisikkan sesuatu ke telinga si gajah. Ajaib, tiba-tiba si gajah menangis meraung-raung. Nah, kontestan ketiga dari Indonesia keluar sebagai pemenang. Penasaran, para penonton ada yang langsung bertanya kepada kontestan Indonesia tadi : “Memang apa yang Anda bisikkan tadi sampai-sampai si gajah bisa menangis?” Kontestan ketiga menjawab : Saya cuma membisikkan berapa jumlah besaran nominal utang Indonesia kepada luar negeri koq. Eh, tiba-tiba si gajah bisa menangis.” Jujur saja, awalnya, penulis tergelitik lucu mendengar empat anekdot di atas. Tapi, lama-kelamaan, penulis jadi miris dan merasa sedih. Kenapa? Karena anekdot-anekdot sejenis, yang pada mulanya dibuat sebagai kritik sosial-politik yang humoris, memiliki imbas negatif bagi persepsi psikologis masyarakat bangsa Indonesia. Sekarang, sebagian masyarakat Indonesia mengidap penyakit inferiority complex/merasa rendah diri di hadapan dunia internasional. Bahkan lebih parahnya, juga memandang rendah (under estimate) terhadap bangsanya sendiri, bangsa Indonesia. Jadi ada dua sisi penyakitnya, ke luar (inferiority complex) dan ke dalam (under estimate). Coba saja perhatikan di sekitar kita. Sebagian besar di antara kita akan memandang buruk bangsa Indonesia : orangnya bodoh, miskin, terbelakang, kuno, tradisional, tidak disiplin, mudah terprovokasi, jahat, pembohong, pemalas, korupsi, kolusi, nepotisme, dst., (ga enak kalo diterusin). Pandangan seperti ini sebetulnya tidaklah salah, karena memang realitanya begitu. Yang salah adalah ketika realita seperti itu menutupi potensi besar yang sebenarnya dimiliki bangsa Indonesia. Jadi kemudian yang timbul adalah rasa pesimistis, bahwa Indonesia memang sudah “ditakdirkan” untuk menjadi terbelakang, tidak mungkin untuk maju. Potensi Indonesia sangatlah besar baik dari sumber daya alamnya maupun sumber daya manusianya. Hampir seluruh sumber daya alam yang ada di bumi ini dimiliki oleh bumi Indonesia. Kalau di Arab, ketika minyak bumi habis, “matilah” bangsa Arab. Tapi kalau di Indonesia, minyak bumi habis, masih ada batu bara. Batu bara habis, masih ada air. Masih ada peternakan, perkebunan, perikanan, perhutanan, Belum lagi kita juga memiliki emas, perak, intan. Lalu kita juga punya potensi pariwisata yang juga cukup besar. Selain itu kita juga punya baja, aluminium dan besi. Tapi memang, potensi alam yang demikian kaya juga jumlah SDM yang cukup besar tidak diikuti oleh kualitas SDM-nya. Menurut data dari UNDP, Human Development Index (HDI) manusia Indonesia tahun 2007-2008 hanya 0.728 berada pada urutan ke-107, satu tingkat di bawah negara Palestina (0.731). Fakta ini menjadi tantangan tersendiri, tapi jangan dijadikan alasan untuk under estimate dan inferiority complex sama sekali! Jika kita ingin merubah Indonesia ke arah yang jauh lebih baik, maka kita harus, selain melakukan kerja-kerja nyata yang lain, melakukan perubahan persepsi kita dalam memandang manusia dan bangsa Indonesia. Kita harus memiliki persepsi bahwa bangsa kita adalah bangsa yang besar potensinya. Tapi jangan sampai persepsi itu kelewat batas yang bisa melahirkan chauvinis-narsis, merasa bangsanya paling unggul dan memandang rendah bangsa yang lain. Tiap bangsa memiliki filsosofi bahwa bangsanya adalah bangsa yang utama di antara bangsa yang lain. Coba saja lihat. Di Jepang ada filosofi kebangsaan “hakko I chiu” atau negara satu atap, yang artinya bahwa Jepang ingin menyatukan bansga-bangsa di dunia dan Jepang sebagai pemimpinnya. Kemudian kita lihat negara China, bahasa Chinanya negara China adalah “Zhong Guo” (baca : chung kuo; zhong = tengah, guo = negeri), yang memiliki arti bahwa bangsa China ingin menjadi “negeri tengah” yang ingin memimpin dunia dengan “menengahi” bangsa-bangsa yang lain. Kemudian di Jerman ada filosofi “lebensraum”. Nazi juga memaknai bahwa ras bangsa Arya adalah ras unggulan dibanding bansga-bangsa lain. Tentunya kita tidak boleh berpersepsi sama dengan bangsa-bangsa tersebut yang chauvinistik. Bangsa Indonesia besar bukan karena rasnya, tapi karena potensi dan kerja-kerja bansganya. Jika kita tidak memiliki persepsi bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar, maka kita, sekali lagi, harus merubah persepsi kita. Perubahan persepsi inilah yang akan menjadikan kita memandang positif bangsa Indonesia. Kemudian yang akan memancar dari diri kita adalah energi positif. Jika perubahan persepsi tadi dilakukan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia, maka energi positif tadi akan membesar dan semakin besar, layaknya snowballing effect. Nah, ketika energi positif itu semakin membesar dan terus menjalar ke dalam setiap pori-pori tubuh bangsa Indonesia, maka yang akan kita dapatkan adalah juga hal-hal positif, yangt idak lain adalah kejayaan, kemakmuran dan kesejahteraan itu sendiri. Sebaliknya, jika energi yang kita keluarkan adalah energi negatif, maka hal-hal negatif jugalah yang akan kita peroleh. Demikian rumus sederhananya. Ini bicara tentang Indonesia. Persepsi kita kepada Allah SWT saja sudah digambarkanNya : “Aku (ALLAH) seperti persangkaan hambaKu, kalau baik, maka baik.” Maksudnya, kalau kita memandang Allah baik kepada kita, maka kita akan mendapat hal-hal positif dari Allah. Tapi kalau kita memandang Allah negatif kepada kita, maka hal-hal negatiflah yangakan kita dapatkan dari Allah SWT... created & speeched by a2i Sumber : www.auliaagusiswar.multiply.com Melihat judul di atas, mungkin di antara kita ada yg mengernyitkan dahi atau tersenyum penuh ketidakmengertian : 'Apa maksudnya PKS menikah? Apa hubungan antara PKS dengan pernikahan?' Oke, begini ceritanya... Utsman ibn Affan pernah mengatakan : 'ALLAH Mengamanahkan kepada politik/kekuasaan hal-hal yg tidak dapat dilakukan oleh al Quran secara sendirian.' Dalam pernyataan ini terdapat 2 entitas, yaitu politik/kekuasaan dan al Quran. Dengan memahami isi pernyataan tersebut, penulis memahami bahwa klasifikasi bangunan Islam secara umum ada 2, yaitu iman dan 'amal shalih; iman diwakili oleh alQuran (bersama as Sunnah) dan 'amal shalih diwakili oleh politik. Iman bersifat teoritis-normatif-idealita, 'amal shalih bersifat praktis-positif-realita. Berarti, iman adalah setengahnya Islam dan 'amal shalih juga adalah setengahnya Islam; al Quran adalah setengah agama dan politik juga setengahnya agama. Kedua entitas ini merupakan satu kesatuan yg tidak terpisah. ALLAH Berfirman : 'ALLAH telah Berjanji kepada orang beriman dan beramal shalih bahwa mereka akan dijadikanNya berkuasa di muka bumi ini...'(Q.S. An Nur : 55). Kalau umat Islam tidak berkuasa/berpolitik, maka ajaran Islam tidak dapat diimplementasikan secara menyeluruh dan total. Oleh karena itulah Hasan al Banna menyatakan bahwa level/maqam/derajat ttertinggi kepribadian seorang muslim adalah menjadi seorang politisi. Dengan menjadi politisi, seorang muslim akan mengerahkan seluruh kemampuan dirinya. Ketika dikatakan bahwa politik adalah setengahnya agama, mungkin kita akan 'protes' : 'Bukankah setengah agama itu adalah menikah?' Betul, penulis juga memahami, selama ini jika ada orang Islam menikah, maka kita anggap orang Islam tersebut telah menggenapkan setengah agama (din)-nya. Tapi, perlu diingat, di dalam Islam itu ada yg namanya domain fardhiyah (individu) dan domain jama'ah (kolektif). Nah, dalam konteks individu, setengahnya agama adalah menikah, dan dalam konteks jama'ah, setengahnya agama adalah politik dalam artian umat Islam memegang tampuk kekuasaan. Kemudian, jika pemahaman di atas kita gunakan untuk 'membaca' PKS, maka penulis berpendapat bahwa PKS belum menikah, PKS belum berkuasa, alias masih bujangan. Dalam perjalanannya PKS telah 2 kali melakukan ta'aruf/perkenalan yg merupakan tahap awal pernikahan, yaitu ta'aruf politik/Pemilu 1999 dan Pemilu 2004. Tapi 2 kali itu pulalah PKS ditolak oleh pinangannya, karena syaratnya belum terpenuhi. Di belahan bumi yg lain, 2 saudara kembar PKS, yaitu HAMAS dan AKP, telah berhasil menikah. HAMAS telah berhasil menikahi negara Palestina dengan meraup sekitar 57% suara merebut 76 kursi dari 132 kursi pada Pemilu Palestina 2006 (sebelumnya pada pemilu kota Ghaza HAMAS merebut 77 kursi dari 118 kursi dengan menguasai 7 wilayah dari 10 wilayah) . Adalet ve Kalkinma Partisi/ AKP (Partai Keadilan Pembangunan) berhasil menikahi negara Turki dengan meraup suara 46,7% merebut 340 kursi dari 550 kursi parlemen. AKP berhasil pula membina keluarga yg sakinah mawaddah warahmah dalam artian berhasil menjadikan Turki sebagai negara yg makmur dan sejahtera (inflasi menurun, investasi berkembang signifikan, pertumbuhan ekonomi mencapai 7%), bahkan berhasil pula memasukkan Turki ke dalam European Union. Sungguh, sebuah lompatan yg sangat menggembirakan sekaligus mencengangkan. Sedangkan untuk kasus HAMAS, meskipun telah memenangi Pemilu dengan hasil yg sangat fantastis, tetapi HAMAS belum berhasil membangun rumah tangga yg sakinah mawaddah wa rahmah. Setelah HAMAS berkuasa, keadaan sosial-ekonomi Palestina semakin merosot tajam. Hal ini terjadi karena faktor eksternal, yaitu tekanan pemerintahan Amerika, Inggris dan Israel yg tidak merestui pernikahan HAMAS, mereka mendelegitimasi kemenangan HAMAS. Juga karena faktor internal, yaitu faktor profesionalitas kader-kader HAMAS yg mungkin belum semuanya memenuhi standar untuk mengelola sebuah negara. Sampai-sampai Dr. Yusuf al Qaradhawy menghimbau HAMAS untuk menggalakkan 'jihad madani' yaitu jihad untuk membangun negara, tanpa melupakan 'jihad qital' melawan Zionis-Israel. Selain 2 saudara kembar PKS tersebut, jangan lupa, ada IM di Mesir yg merupakan kakak kandung PKS, HAMAS, dan AKP. Nasib IM juga sama seperti PKS, belum menikah alias bujangan. Tapi, bedanya, PKS belum menikah karena syarat suara belum terpenuhi, sedangkan IM belum menikah bukan karena syarat belum terpenuhi, tapi mungkin, menurut penulis, menunggu adik-adik kandungnya menikah dahulu di berbagai negara termasuk PKS di Indonesia. Sebetulnya IM bisa menikah sekarang juga hanya dalam waktu singkat, karena meskipun IM organisasi terlarang tapi kader-kadernya menguasai berbagai elemen di Mesir. Masalahnya, jika IM menguasai Mesir sekarang, pasti pemerintahan Amerika, Inggris, Israel akan memberangusnya. Nah, berarti pernikahan PKS sudah ditunggu-tunggu oleh kakak kandungnya dan saudara-saudara kembarnya yg lain. Insya ALLAH pada tahun 2009 besok PKS akan ta'aruf lagi. Karena sekarang PKS masih bujangan, masih banyak yg menjadi larangan, sama seperti orang yg belum menikah. Ketika nanti ta'arufnya diterima, maka PKS akan jadi pajangan di kursi pelaminan. Setelah itu yg 'jangan-jangan'/larangan tadi akan menjadi hilang, yang tinggal adalah 'pa' dan 'bu', sah menjadi 'ba-pak' dan 'i-bu'. Jadi bu-jangan dulu, terus menjadi pa-jangan, setelah itu 'jangan-jangan'-nya hilang, menjadi 'bapak-ibu'. Mudah-mudahan tercapai. Penulis berharap, pernikahan/kemenangan PKS nanti merupakan kombinasi positif kemenangan HAMAS dan AKP. Kalau HAMAS berhasil meraup suara di atas 50%+1, tapi profesionalitas pengelolaan negaranya belum menggembirakan. Sedangkan sebaliknya, AKP meskipun menang, hanya meraup suara di bawah 50%, tapi profesionalitas pengelolaannya negaranya sangat menggembirakan. Nah, kita harapkan, kemenangan PKS nanti meraup suara lebih dari 50%+1 seperti HAMAS, dan profesionalitas pengelolaannya sangat menggembirakan seperti AKP. Ini bukan khayalan, karena harapan itu masih ada. Sekarang PKS bertekad : 'Indonesia, akan kupinang engkau dengan keadilan.' (a2i) 1. Anis Matta. Eksistensi beliau dalam jama'ah bisa dikatakan unik. Kenapa unik? Karena cara berpikir beliau hampir sering berbeda dengan petinggi2 PKS yg lain terhadap suatu hal. Mungkin kalau petinggi PKS lain cenderung berpikir secara linear, beliau justeru berpikir secara random. Lihatlah ketika reformasi dulu ada kesempatan jama'ah untuk berparpol, beliau termasuk Ust Hidayat Nur Wahid, tidak sepakat, karena kita akan membuka diri atau berparpol pada tahun 2010. Beliau pula yg mengusulkan wiranto sebagai capres PKS pada Pemilu 2004 lalu daripada Amien Rais. Beliau juga yg bersikeras Cagub PKS untuk DKI harus dari militer/polri yaitu Adang Dardjatun. Ust Dani Anwar sempat berbeda pendapat dengan beliau soal cagub DKI, bahkan sampai beliau berdua tidak saling menegur selama beberapa hari, sampai akhirnya ishlah. Hal lain yg mungkin membuat beliau unik adalah gaya hidup beliau yg seolah2 tidak takut dengan "kemewahan", padahal mungkin kebanyakan Ustadz kita menjauhinya. Ditambah lagi dengan taujih beliau beberapa waktu yg lalu ttg uang, yg dinilai beberapa ustadz tidak layak karena terkesan gila harta. Sekarang coba kita lihat latar belakang beliau. Waktu kecil dididik @lingkungan Muhammadiyyah, kuliah syari'ah@Lipia. Tapi meskipun beliau besar@lingkungan religius, beliau tetap terbuka/openmind, belajar filsafat, sastra, motivasi pengembangan diri, bisnis, politik barat, dst. Sesuatu yg jarang,seorang berlatar belakang syari'ah tp juga sangat terbuka seperti itu. Eksistensi beliao mungkin dinilai sebagian kalangan sebagai dinamisator jama'ah. Tapi, menurut pnulis, motivasi beliao dengan pikiran dan tindakan-tindakannya bukanlah diniatkan untuk mendinamisasi jama'ah atau untuk berdialektika. Patokannya manhaj, bukan dinamisasi atau dialektika. Sikap beliau bukan seperti sebagian ikhwah yg bangga ketika "berbeda" dengan ikhwah lain, pokoknya beda, pokoknya dialektika. Ikhwah yg model begini biasanya tdk sami'na wa atha'na, tapi seperti anak-anak liberal, "sami'na, wa tafakkarna, lalu opsinya : wa ashaina atau wa atho'na". Boleh-boleh saja kita mengambil yg sami'na wa tafakkarna, setelah itu opsi yg diambil harus wa atha'na. 2. Anis Baswedan. Kita ketahui beliau adalah rektor Universitas Paramadina. Sebuah universitas yg berdirinya dilatarbelakangi oleh penyebaran pemikiran Liberal Islam, sebuah universitas yg mengkaji relasi antara Islam dengan negara dalam konteks Indonesia sebagai sebuah negara demokrasi, sebuah universitas yg ingin meneruskan perjuangan warisan pemikiran Nurcholis Madjid. Ada 1 artikel pada majalah MADINA edisi Mei 2008 yg menyoroti kemenangan PKS di Jabar. Artikel itu menuturkan, seperti artikel-artikel Liberal Islam yg lain yg biasanya memandang sinis PKS, bahwa PKS&HTI sebetulnya sama, tujuan akhirnya ingin menegakkan negara & syari'at Islam, yg berbeda caranya : PKS masuk sistem, HTI di luar sistem. Kalau pun PKS menerima NKRI, Pancasila, demokrasi, pluralisme, dst, itu hanya bentuk taqiyyah/kepura-puraan belaka. Ketika PKS nanti berhasil berkuasa, maka negara & syariat Islam akan didirikan. Bahkan dikatakn juga bahwa FPI tidak perlu ditakuti, tapi yg perlu ditakuti adalah PKS. Begitulah biasanya gaya tulisan Liberal Islam menyoroti pks. Tapi, ada yg unik dengan artikel tersebut. Di dalam artikel itu, dikutip beberapa pernyataan Anis Baswedan yg justeru terkesan "membela PKS". Kata beliau, menyangkal penulis artikel, PKS itu partai modern. Tidak benar jika dikatakan PKS itu ingin mendirikan negara Islam. PKS sebagai partai modern ingin mengelola dan memakmurkan negara Indonesia agar menjadi negara yg madani. Untuk memahami lebih dalam pernyataan-pernyataan Anis Baswedan yg sudah jelas "temannya JIL" terkesan bela PKS, perlu diadakan kajian yg lebih mendalam. Kali ini penulis hanya menggambarkan bahwa seorang Anis Baswedan memiliki pandangn terhadap PKS yg mungkin berbeda dengan pendapat umum/mainstream dalam komunitas Liberal Islamnya. Di saat JIL mencibir PKS, Anis Baswedan malah membelanya. Di sinilah keunikannya. Apakah ini yg disebut Imam Syahid, kamminna laisa finna (ada org yg pada hakikatnya kita, tapi saat ini tidak bersama-sama kita).. Entahlah.. 3. "'Af1, akhi. Sekarang ane di Partai Kerat, karena bos perusahaan ane orang Partai Kerat. Ane ditugaskan untuk daerah sini. 'af1.-Anis." Demikian kurang lebih bunyi SMS yg diterima oleh kader-kader PKS @TPPRA tempat Anis tinggal. Anis seorang yg dianggap oleh orang banyak sebagai kader PKS, meskipun kekaderannya memang perlu ditinjau lagi (tarbiyah-nya bolong-bolong). Ia menjadi staf RW aktif di tempat tinggalnya di bilangan Jaktim. Ia pun bisa dikatakan sebagai fungsionaris TPPRA PKS. Dengan SMSnya tadi, ia cukup membuat kader-kader PKS setempat terkejut. Dan memang ternyata tidak hanya seorang Anis yg pindah haluan ke Partai Kerat, tokoh-tokoh di daerah Anis yg tadinya simpatisan PKS & kader Golkar pun pindah haluan ke Partai Kerat. Usut punya usut, tnyata memang mereka dibayar oleh Partai Kerat dapat santunan kesehatan 10 juta, dana bulanan juga dapat. Ah, memang kalau uang sudah berbicara.. Sikap Anis ini unik,tentunya unik yg negatif.. Penulis jadi teringat ungkapan Imam Syahid, "ka finna, laisa minna", ada orang yg selama ini bersama kita, tapi pada hakikatnya dia bukan kita... Penulis tidak ingin lancang menyatakan hal ini sebagai sebuah bentuk pengkianatan terhadap da'wah, entahlah.. Apakah kita akan memperlakukannya seperti Rasulullah memperlakukan Hathib bin Abi Balta'ah yg membocorkan rencana rahasia umat Islam kepada musuh, yaitu membiarkan dan memaafkannya? Mengapa Rasulullah memaafkannya? Hathib melakukan itu karena terpaksa. Kalau ia bisa memberikan informasi strategi rahasia Rasulullah, maka anak dan isterinya yg sedang ditawan akan dibebaskan. Tapi, mungkin cukup efektif jika SMS Anis tadi dibalas dgn kata-kata ini, sperti yg dituturkan syaikh TPPRA setempat : "Akh Anis, itu urusan antum dengan ALLAH..." Nah, saudara skalian.. termasuk yg manakah diri kalian di antara 3 org di atas, terlepas dari nama kalian Anis atau bukan? Wallahu Musta'an. (a2i) "Eh.. jadi berapa nih kita hargain berasnya? 10 ribu/3 liter? atau mau dibuat 2 liter aja? trus subsidi dari kita berapa? oo iyeh, akh bendahara, dah berapa duit yg masuk?.. kira2 sembako apa aja yg mau kt jual di bazar?"... Begitulah kira2 sayup2 terdengar rapat kader tppra pks di suatu wilayah Jaktim. rupanya mreka sedang mempersiapkan acara bazar sembako. mereka terlihat akrab dgn informasi harga2 sembako. logika awamnya, kader da'wah seharusnya ngomongin agama, hukum2 fiqh, ruhiyah, atau tafsir aja. ngapain bahas2 sembako. Ah, memang ada benarnya anggapn seorang dosen fisip ui yg mengatakn : "PKS itu kiri/sosialis. lihat saja ada simbol padi. kgiatn2 mreka sgt kentel dgn aksi2 sosial." kder2 pks tnyata mmg lbh akrab dgn harga2 smbako dibanding kader2 kiri/sosialis. anak2 kiri scra umum mgkn sibuk berkutat dgn pbahasan ideologi teoritis atw memobilisasi gerakn2 massa yg sifatny advokatif, bukan akrab dgn fluktuasi hrg smbako layakny pdagang/pbisnis. Sembako, demikianlh kt ini begitu populer@tlinga qt. masy mngnalny dgn sembilan bahan pokok.ada beras,minyak tanah, myk goreng, gula, dst. biasanya kdr pks mlakukn bazar sembako dgn hrg smbako yg lebih murah, dgn harapn dpt meringankn beban ekonomi masy krena melambungny hrg2 sembako td. agr hrg smbako td lbh murah,mreka mberi subsidi yg diambil dr dana donatur yg dcari ke sana ke mari. bazar2 sperti ini mjadi ciri khas bisnis pks,tdk kenal wktu,entah pemilu atw tdk,bazar ttp bjalan,minimal 6 bln 1x. bisnis pks @sini bukn utk mcari keuntungn materi,malah scra materi kdr2 pks mngeluarkn subsidi sembako. ktika kini byk partai lain, yg mgkn terinspirasi/mneladani pks dgn mnggelar bzr2 serupa, mk kdr2 pks jgn mlh memandang sinis/negatif partai2 lain itu,krena brarti 'bisnis' qt ditiru org. kdr2 pks sharusny justru mmandang positif. krena bazar itu suatu pbuatn mulia+baik,maka insyaALLAH qt akn dpt pahala 'amal jariyyahnya yg trus mngalir. ingat kt rasulullah :"brg siapa yg menunjuki/mberi contoh suatu pbuatn baik kpd org,kmudian org itu mengikutiny,maka ia jg mdapat phala dr si org td." yah, bisnis sembako-nya pks memang unik, tdk mngambil profit scra materi.. Bicara soal bisnis sembako, pks harus sadar, tnyata bisnis sembako digambarkn dlm al Quran, tepatnya surah At Taubah ayat 111 & 112. Pd ayat yg pertama, dgambarkn bahwa Allah dan orang beriman mengadakn suatu transaksi bisnis. Allah sbagai pembeli, mu'min sbg penjual. Allah Membeli diri&harta org beriman dgn harga surga dan keridhaanNya.jd, org beriman mjual diri&hartanya kpd Allah. Lalu ALLAH Membayarny dgn surga yg abadi dan keridhaanNya. Inilah bisnis qt dgn ALLAH. Lalu apa yg ingin Dibeli ALLAH dr diri kita? ayat 112 mjawabnya. yg qt jual kpada ALLAH pd hakikatnya adlh SEMBAKO. Jd, diri qt harus melakukan SEMBAKO td. apa itu SEMBAKO, tntunya bukan sembilan bahan pokok, ttapi SEMBILAN KEWAJIBAN POKOK. Apa sajakah yg tmasuk SEMBAKO itu? kita cermati ayat 112 : taubat, beribadah, mmuji ALLAH, mcari ilmu, ruku', sujud, amar ma'ruf, nahi munkar, mmlihara hukum2 ALLAH. inilah kesembilan 'kewajiban' itu. SEMBAKO ini hrs mjadi kehidupan sehari2 qt sbg mu'min. a. taubat. qt harus snantiasa btaubat,skecil apapun dosa kita,aplg jika dosany besar. rasulullah btobat min 70-100x dlm sehari. taubtny qt dtentukn sbrapa byk org ygtahu. klo itu dosa publik, misal korupsi, maka qt juga harus mnayatakn taubat itu kpd publik. b. ibadah. qt Dciptakn utk beribadah. tntuny ibadh dlm arti mahdhah dan ghairu mahdhah, luas skali aspekny. c. memuji ALLAH. stiap desah nafas dn prilaku qt hendakny snantiasa mrupkn implementasi pujin/dzikir qt kpd ALLAH. ayam sj pandai berdzikir kpd ALLAH. saat mjelang fajar, biasanya ayam mngingtkn qt yg ttidur : "ADZKURULLAH.. ADZKURULLAH..(kukuruyuk..kukuruyuk).. ingatlh ALLAH.. pujilah ALLAH..". d.mcari ilmu. ingat, ilmu sgt penting. ayat yg prtama kali turun adalh Iqra (mcri ilmu),bukn dprinthkn utk shalat, zkt, puasa,jihad, dst. e. ruku'. jdlh mu'min yg snantiasa ruku' dgn khusyu' dn mnyempurnakanny. f. sujud. hiasilh stiap hidup qt dgn sujud,yg smpurna, sbg manifestasi penghambaan qt kpd ALLAH, bahwa qt dan smuanya itu keciiiill. yg Besar hanyalah ALLAH. g. 'amar ma'ruf. adakh pkataan yg lbih baik dr seruan kebaikan seorang da'i? jawabnya tdk ada. sebaik2 org di antara kamu adlh yg plg bmanfaat utk org lain. lalu,apa bentuk manfaat tbaik itu? yaitu,ktka qt bs mngusahakn orang lain mjadi org mu'min yg ta'at. h. nahi munkar. slain mnyeru kbnarn,qt dprintahkan utk nahi munkar. ini 2 hal yg tdk boleh dpisah,sprti 2 sisi mata uang. utk nahi munkar,kt hrs bhati2,apkh qt sdh punya kekuatn/kwibawaan yg nntinya mjadikn kmungkran tsb bisa bhenti dn hilang. tp klo qt blm mmilik kkuatn dn kwibawaan, qt diamkn sj smntara kmungkarn itu. qt cari cara nahi munkar yg lain, yaitu dgn amar ma'ruf. qa'idahny : "jgn smpe nahi munkar yg qt lakukn mlh mciptakn kmunkarn yg lbh bsar." i. plihara hukum ALLAH. hukum ALLAH itu sgt luas, dr yg tkecil smpe yg tbesar, dr yg private smpe yg public. mgkn sgt byk hukum2 ALLAH yg saat ini blm bs qt lakukn. tp lakukn sj hukum2 ALLAH yg sudah bs qt lakukan. qai'dahnya : "suatu kbaikn yg blm bs dilakukn, jgn ditinggalkan smuanya." nah,dmikianlah bisnis sembako (sembilan bhn pokok) & bisnis SEMBAKO (SEMBILAN KEWAJIBAN POKOK) yg hendakny kader2 pks langgengkn.. Mudah2n qt smua mampu menjualnya kpd ALLAH, dan mudah2n ALLAH akan membayarny dgn keridhaan dan surgaNya... amin ya rabbul 'alamiin.. (a2i) Pada suatu ketika, berkumpullah sekelompok pemuda dalam sebuah halaqah. Sang guru bertanya kepada para muridnya : “Saat ini yang menjadi tren perfilman adalah tema percintaan dan tema Islam yang berbau mistik. Menurut kalian, tren apa yang akan mewarnai perfilman setelah ini? Kalau menurut analisis saya, tren yang akan muncul setelah ini adalah gabungan kedua tren tadi, yaitu film-film dengan tema percintaan yang dikemas dengan nuansa Islami. Coba nanti kita lihat benarkah analisis saya ini?” Saat itu novel Ayat-ayat Cinta (AAC) mungkin masih proses syuting. Coba perhatikan, ternyata analisis itu benar.. Tren perfilman yang kemudian muncul adalah tema percintaan dengan nuansa Islam. Fenomena bestsellernya film AAC menggambarkan hal itu. Berduyun-duyun masyarakat Indonesia ingin menyaksikannya. Bahkan ada yang rela menyaksikannya berkali-kali. Sampai para petinggi di republik ini pun ikut menyaksikannya dengan antusias. Kali ini penulis akan coba menganalisis fenomena AAC dari 3 sudut pandang, yaitu marketing, da'wah dan khilafah. Prtama. Secara marketing, pengambilan judul sangat marketable. AAC terdiri dari dua kata : “ayat-ayat” dan “cinta”. Ini sangat marketable karena produk film AAC tersebut mampu menggabungkan dua segmentasi yaitu segment golongan yang selama ini suka dengan “ayat-ayat” dan segment yang selama ini suka dengan “cinta”. Ayat-ayat adalah ikon represntatif para ikhwan-akhwat yang selama ini berkecimpung dengan dunia dan lingkungan Islami. Golongan ini terkesan menjauhi dunia cinta. Sedangkan cinta merupakan ikon representatif para pemuda/remaja gaul yang hidup mereka dipenuhi dengan nuansa percintaan. Golongan ini terkesan menjauhi dunia ayat-ayat. Kedua golongan ini cenderung saling antipati satu sama lain, seperti minyak dan air. Tapi dengan adanya film AAC, kedua golongan ini bertemu. Dengan kata lain, film AAC seolah-olah bisa memepersatukan kedua golongan tersebut. Kedua. Secara da'wah, film AAC adalah anugerah. Lho, kenapa bisa begitu? Bukankah banyak pro-kontra di dalamnya? Misalnya pro-kontra poligami, wanita-wanita yang mengumbar kecantikan wajahnya di hadapan publik, dst.? Menurut penulis, memang film AAC masih banyak kekurangannya, tapi sisi kebaikannya lebih banyak. Setidaknya, film AAC bisa menjadi trigger/pemicu munculnya film-film bertema sejenis yang akan merupakan koreksi/perbaikan dari film AAC. Buktinya sekarang sedang akan dibuat film Ketika Cinta Bertasbih. Di layar TV juga sinetron-sinetron bertema sejenis mulai banyak berunculan. Sebut saja misalnya Munajah Cinta, Aqso-Maedina, dst. Mudah-mudahan film-film selanjutnya akan semakin baik dan Islami. Hal ini merupakan anugerah, karena bisa menjadi sarana da'wah kepada masyarakat luas yang selama ini mungkin masih jauh dari nilai-nilai Islam. Ketiga. “Banyak ustadz dan ustadzah yang rame-rame datang ke bioskop hanya untuk nonton AAC. Apakah ini ahsan/baik?” Itulah pertanyaan yang dilontarkan dalam sebuah diskusi oleh seorang akhwat sebuah partai politik Islam internasional yang senantiasa mengkampanyekan tegaknya khilafah. Dari pertanyaan ini kita dapati ketidaksetujuan si akhwat terhadap fenomena film AAC. Kemudian penulis berpikir, bukankah parpol Islam si akhwat senantiasa menggembar-gemborkan khilafah? Memang apa itu khilafah? Menurut penulis, khilafah itu adalah sebuah otoritas Islam yang mendunia/global. Otoritas ini akan membawahi umat/masyarakat dunia. Karena itu, otoritas ini baru bisa terwujud jika ada kesepakatan minimal dari 50% kekuatan politik dan masyarakat internasional. Berarti, khilafah itu harus bisa diterima oleh sebagian besar masyarakat dunia, baru dia sah disebut sebagai khilafah. Jika hanya 10% kekuatan internasional yang ingin mendirikan khilafah, maka menurut penulis, khilafah tersebut tidak sah. Karena kalau begitu, siapa yang akan dipiminnya? Bukankah khilafah itu memimpin masyarakat dunia? Maka wajar jika angka 50% itu menjadi syarat sahnya sebuah otoritas khilafah. Lalu apa kaitannya dengan AAC? Seperti telah dijelaskan di atas bahwa film AAC mampu mempertemukan dua golongan besar yaitu golongan yang suka dengan ayat-ayat dan golongan yang suka dengan cinta. Maka secara tidak langsung, seolah-olah kedua golongan tersebut menyepakati dan menerima AAC. Berarti analoginya film AAC itu ibarat khilafah yang harus mendapat kesepakatan dan penerimaan dari sebagian besar masyarakat dunia yang notabene adalah rakyat yang akan dipimpinnya nanti. Nah, jika memang parpol Islam internasional tersebut memang benar-benar ingin menegakkan khilafah, maka seharusnya mereka mensyukuri adanya film AAC tadi, karena film tersebut merupakan miniatur percontohan khilafah. Otoritas khilafah tidak dibangun di atas masyarakat yang homogen, tapi dibangun di atas masyarakat yang heterogen dan pural. Nah, siapkah kita semua memimpin masyarakat dunia yang heterogen dan plural itu, jika kerja kita hanya bisa MENANTI TEGAKNYA KHILAFAH? (a2i) 
|  | HP impian saat ini... |
by Aulia Agus Iswar “Saudaraku kader PKS, kalian adalah ujung tombak perjuangan kami…” Itulah suara yang menggema di seantereo jagat Jalan Sudirman sekitar 3 tahun yang lalu. Waktu itu, penulis bersama dengan 9 orang kader PKS yang lain, sedang mengikuti lomba gerak jalan yang diadakan oleh DPW PKS DKI. Rutenya start dari Monas ke Semanggi lalu kembali ke Monas untuk finishing. Saat di Jalan Sudirman itulah, tepatnya di Setiabudi, rombongan kami yang bersepuluh orang tadi, berpapasan dengan banyak massa FPI yang sedang melakukan konvoi. Kami berjalan di pinggir, sedangkan FPI di tengah jalan. Jadilah kami bersepuluh berjalan kaki beriringan dengan massa FPI yang naik motor dan mobil. Di salah satu mobil sound itulah terdengar suara orasi yang membahana. Mendengar seruan ini, kami membalas dengan yel-yel : “Islam bersatu, tak bisa dikalahkan!” Yang kemudian massa FPI pun menyahutinya : “Umat bersatu, tak bisa dikalahkan!” Pada saat yang bersamaan, di antara massa FPI itu ada yang melambai-lambaikan tangannya dengan ramah kepada kami, seolah-olah memberi semangat, karena memang kami terlihat letih bermandikan keringat. Yang membuat kami terharu adalah ketika seorang wanita berjilbab di antara massa FPI sambil tersenyum menyodorkan kami bersepuluh, minuman air mineral. Semua itu menambah semangat kami bersepuluh untuk mencapai garis finish di Monas.. Yah, inilah kisah 3 tahun silam; yang masih selalu terngiang.. di Monas… Tapi Monas hari ini, bukan seperti Monas 3 tahun silam. Terkejut penulis ketika mendengar kabar dari KBR68h, bahwa telah terjadi insiden penyerangan FPI dan Laskar Islam kepada massa Aliansi untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan di Monas, setelah didahului dengan adanya provokasi. Sedih mendengarnya, tapi ini adalah realita, yang harus kita hadapi bersama… Terlepas dari apakah ini settingan pemerintah atau bukan.. Terlepas juga dari siapakah sebetulnya pihak di balik entitas ormas FPI.. Sebagai sesama kader muslim yang sama-sama berjuang menegakkan risalahNya, penulis ingin memberikan nasehat kepada saudara-saudaraku FPI, sebagai bentuk pelaksanaan sunnah Rasul : “Tolonglah saudaramu yang terzhalimi dan yang menzhalimi.” Dan ini adalah kewajiban kita semua, termasuk ketika PKS melakukan kesalahan, kalian saudara-saudara FPI juga berkewajiban menasehati PKS. Saudaraku sekalian, penulis mengingatkan kita semua bahwa umat Islam di Indonesia ini belum menikah. Padahal menikah itu adalah setengahnya agama. Dan sebelum menikah, banyak hal yang menjadi larangan : berdua-duaan, pacaran, “sedekah”, dll. Apa definisi menikah di sini? Makna menikah di sini adalah makna analogis, yaitu memegang tampuk kekuasaan/perpolitikan. ‘Umar ibn Khaththab berkata : “ALLAH mengamanahkan kepada politik/kekuasaan hal-hal yang tidak bisa dilakukan oleh al Quran sendirian.” Jadi, politik itu setengahnya agama pada sector kolektif, sama seperti menikah itu adalah setengahnya agama pada sector personal. Karena kita belum menikah secara politik, maka masih banyak hal yang menjadi larangan, termasuk menggunakan kekerasan dalam nahi munkar. Jika larangan ini dilanggar, maka akan timbul fitnah, sama seperti seorang muslim yang berpacaran sebelum menikah, akan timbul fitnah. Berpacaran itu boleh, bahkan wajib, jika sudah menikah. Nahi munkar menggunakan tangan itu juga wajib, jika kita sudah menikah secara politik, dalam arti Islam beserta sistemnya telah menjadi pemimpin di negeri ini. Tentunya jika didahului dengan ‘amar ma’ruf yang memadai seperti pembinaan ‘aqidah, mensejahterakan masyarakat, memakmurkan negeri, dll. Saudaraku kader FPI, kalian berada di jalur yang benar, karena kalian memperjuangkan kebenaran. Kalian telah melakukan ‘amar ma’ruf dengan pembinaan aqidah, aksi-aksi social, dll. Tapi tetap, image di masyarakat, FPI identik dengan kekerasan. Kalian benar, tapi cara kalian itulah yang kurang tepat, malah menimbulkan kemudharatan yang lebih besar. Islam sangat mengedepankan perdamaian. Jika perdamaian ternyata tidak bisa dijadikan cara untuk meraih kemashlahatan umat, maka memang kekerasanlah jalan terakhirnya. Tapi sekali lagi, jika kita sudah menikah secara politik. Jika belum, nahi munkar dengan kekerasan tetap menjadi larangan. Maka, saudaraku FPI, yuk menikah.. Genapkanlah setengah agama kita. Poligami sekalian kalau perlu. Sekarang minta biodata dulu, 2009 nanti baru ta’aruf, kemudian kita akan menikah Insya ALLAH wa ALLAHU Akbar! Supaya PKS bisa merealisasikan keinginan kalian tadi : “Saudaraku PKS, kalian adalah ujung tombak perjuangan kami..” (a2i) "Saya ini kagum sama Hasan al Banna, sama Ikhwanul Muslimin, karena gerakannya yang militan ingin memperjuangkan keadilan. Tapi sayangnya sekarang pemikiran Ikhwanul Muslimin dibajak sama sebagian orang, jadilah ia berpolitik (parpol), padahal al Banna dulu tidak berpartai politik." Jangan kaget dengan pernyataan & siapa yang menyatakan hal tersebut. Jangan kaget bahwa Hasan al Banna (selanjutnya disingkat HB) dulu tidak berpartai politik. Jangan kaget juga bahwa pernyataan kekaguman di atas dilontarkn oleh seorang Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, yang notabene pendukung secular Islam. Ikhwanul Muslimin (selanjutnya disingkat IM), yang didirikan HB pada tahun 1928, sebagai gerakan terbesar, telah menginspirasi banyak kalangan/gerakan. Meskipun menginspirasi tadi sifatnya hanya mengambil pemikirannya tapi tidak dalam amal pergerakannya. Maka, ada sebagian kalangan yang mengklaim dirinya "Ikhwan", padahal mungkin ia hanya mengambil manhaj IM sepotong-sepotong. Penulis punya kawan orang HMI (cenderung liberal Islam). Ia mengatakan : "Kalo secara pemikiran, gue IM. Tapi kalo secara organisasi, entar dulu..." Salah satu gerakan yang terinspirasi IM adalah PKS. Dengan manhaj IM yang keindonesiaan, PKS juga kini telah berkembang pesat. Dulu PKS dipandang sebelah mata, kini PKS dipandang jutaan mata. Seorang tokoh nasional pernah memprediksi bahwa PKS akan berkuasa di Indonesia paling cepat tahun 2009 atau paling lambat tahun 2014. Lalu, bagaimana dengan yang dikatakan Gus Dur tadi? Secara kontekstual yang dikatakan Gus Dur itu tidak semuanya salah, ada benarnya. Memang HB dulu seperti "anti politik". HB bahkan pernah mengatakan : "IM selamanya tidak akan pernah menjadi partai politik". Jika demikian, apakah berarti PKS dikatakan telah membajak IM dengan jalan berparpol? Harus dipahami dahulu latar belakang HB mengatakan itu. Situasi politik pada saat itu memang tidak memugkinkan IM untuk ishlah melalui partai politik (mudharatnya lebih besar), karena menjadi politikus pada saat itu berarti menjadi antek penjajah Inggris. Jadi, perkataan HB seperti itu jangan dipahami sebagai anti politik. Maka jika sekarang orang IM berpolitik, bahkan berparpol, itu tidaklah menyalahi manhaj IM. Kalau IM secara organisasi memang tidak pernah akan menjadi partai politik; tidak ada itu Partai IM, tapi orang-orangnya bisa saja membentuk parpol, sesuai kebutuhan da'wahnya. Jadi, ada pemikiran-pemikiran HB yang harus dipahami secara menyeluruh & kontekstual. Menurut penulis, PKS dituntut untuk bisa membedakan manhaj HB dengan strategi HB. Sama seperti kita dituntut untuk bisa membedakan sunnah dengan sirah dalam hal pengambilan dalil. Sunnah melahirkn fiqhussunnah (bukan nama kitab lho!), sirah melahirkan fiqhus sirah. Sunnah sifatnya normatif (das solen), sirah sifatnya positif (das sein). Manhaj sifatnya baku, strategi sifatnya tidak baku. Atau bahasa umumnya tsawabit dan mutaghayyirat. Berpolitik itu adalah bagian dari manhaj IM yang baku. Berpolitik dengan membentuk parpol adalah strategi yang sifatnya tidak baku. Jadi, jangan sampai kita menjadi para pembajak manhaj IM yang menggembar-gemborkan : "Tarbiyyah yes, politik no!" Atau ada juga yang menggembar-gemborkan : "Kita bukannya anti politik, tapi kita ingin berpolitik seperti dulu politik pada masa Raulullah." Untuk kader muslim yang seperti ini, kita suruh saja ia untuk ketemu Doraemon, pinjam laci mesin waktu atau pintu ke mana saja supaya dia bisa pergi ke abad VII M untuk hidup & berpolitik pada masa Rasul. Hal lain yang menjadi pemikiran HB adalah bahwa beliau mewanti-wanti kader IM untuk tidak menjadi PNS, lebih baik menjadi PKL/Pengusaha Kaki Lima yang mencakup pedagang, pengusaha/businessman atau minimal pegawai swasta. Kita harus cermat untuk memahami pernyataan ini. pada masa itu, sama seperti berpolitik, menjadi seorang PNS berarti menjadi antek-antek penjajah Inggris. Jadi pernyataan HB tersebut bukan manhaj,tapi strategi. Penulis yakin, manhaj HB tidak anti PNS. Sebab, sikap anti kepada PNS sama saja dengan anti kepada negara, karena PNS adalah pegawai/orang yang bekerja untuk negara. Dulu PKS sebelum menjadi parpol, juga sangat "menjauhi" PNS ini. Penulis tidak tahu pasti, tapi sepertinya dulu tidak ada ikhwah yang menjadi PNS, kalau pun ada mungkin segelintir, seperti dosen. Mungkin juga, selain komitmen dengan wanti-wanti HB tadi, beliau-beliau pada masa itu tidak ingin menjadi PNS karena menjadi PNS berarti menjadi antek Pancasila. Menurut penulis, efek positifnya assabiqunal awwalun kita jadi mengkristal; ini bagus sebagai pondasi sebuah jama'ah. Tapi efek negatifnya sekarang kita tidak mempunyai PNS-PNS yang sudah berpengalaman. Ikhwah-ikhwah yang sekarang menjadi PNS masih baru-baru; belum banyak pengalamannya dibanding dengan jika ikhwh dari dulu sudah banyak yang menjadi PNS. Sekarang ikhwah-ikhwah PNS yang muda-muda "berhadap-hadapan" dengan generasi PNS yang tua-tua yang sudah lama bercokol di institusinya. Ikhwah-ikhwah PNS kini dituntut untuk bisa melawan "sistem kebiasaan" di PNS-PNS tua seperti malas kerja, datang belakangan pulang duluan, pelayanan yang birokratis dan tidak bersahabat, korupsi, menghambur-hamburkan uang negara, dst. Jadi, dengan penjelasan di atas, maka pertanyaan : "Apakah PKS tidak lagi konsisten dengan pernyataan HB yang melarang IM menjadi PNS? Apakah PKS telah keluar dari rel IM karena mendirikan parpol?", dapat kita jawab dengan : "Tidak. PKS tetap konsisten dengan manhaj IM." Pada hakikatnya, manhaj IM tidak anti PNS dan parpol, IM tidak anti negara. Tapi, bisa jadi pada kondisi tertentu, untuk strategi, IM bisa bersikap "anti PNS & negara". Jadi, PKS tetap konsisten dengan manhaj IM. Apalagi sekarang ketika ikhwah berpolitik dengan membentuk PKS, maka negara menjadi domain "amanah" baru. Nah, untuk mengelola negara tadi, kita butuh dengan PNS, bahkan wajib, selain tetap butuh PKL tentunya. Kalaulah domain pengelolaan negara itu ada 2, yaitu struktur & kultur, maka PNS dibutuhkan di domain struktur dan di domain kultur kita membutuhkn PKl. PNS itu simbol struktur, PKL itu simbol kultur. Dua domain ini sekarang PKS butuhkan. PNS mencakup pegawai-pegawai di institusi-institusi negara sperti kementerian, departemen, guru/dosen, dll. Sedangkan PKL mencakup pengusaha/bussinessman, teknokrat, perusahaan swasta, dll. Dua domain ini harus saling mengisi, agar terjadi keseimbangan dalam pengelolaan sebuah negara. Dua domain ini juga harus dikelola oleh PKS untuk membangun Indonesia. Maka seharusnya PKS memfokuskan kerja lokalnya pada 2 domain ini. Ini harapan penulis ke depan. Tapi untuk saat ini spertinya kader-kader PKS masih terpaksa disibukkan dengan urusan yang penulis sebut dengan "ikon 1 Juni 2008". Disebut ikon karena menjadi cerminan eksistensial pergolakan di negeri ini. Ada apa dengan 1 Juni 2008 itu? Perlu kita sadari bahwa pada hari itu terdapat 3 event marketing yang cukup penting. Yang pertama adalah event tragedi monas antara FUI&AKKBB. Entah disengaja/tidak, dengan tragedi itu, mereka FUI&AKKBB telah termarketingkan; media-media masa menjadikannya hotnews/headline. Orang jadi lebih tahu siapa itu FUI&AKKBB. Yang kedua adalah event Kemah Peduli PKS DKI yang dimulai 29-31 Mei di Cibubur dan 31 Mei-1 Juni di kelurahan masing-masing. Pada tanggal 1 Juni itulah PKS melakukan da'wah aksi-aksi sosial dan lingkungan serentak di seluruh kelurahan di DKI. Secara tidak langsung ini juga adalah bentuk marketing, karena marketing sama dengan da'wah. Yang ketiga adalah event "Tebar Duit 100 juta" oleh Tung Desem Waringin (motivator & pengusaha sukses). Event, yang juga terjadi tanggal 1 Juni di Senayan, dilakukan dengan menebar uang 100 juta dengan menggunakan pesawat/helikopter dari ketinggian sekitar 200 meter di atas langit Senayan. Hal ini dilakukan oleh Tung untuk promosi/marketing bukunya yang kedua yang berjudul MARKETING REVOLUTION. (Uniknya, dalam ketiga ikon inilah penulis berkecimpung : orang PKS, berprofesi di kalangan liberal dan sedang mendalami ilmu & lini-lini Tung Desem Waringin) Nah, realita itulah yang kini memaksa PKS untuk "menghadapi & mengolahnya". Menurut penulis, bagus-bagus saja jika PKS memfokuskan kerjanya pada ikon Kemah Peduli dan Tebar Duit 100 juta, karena memang saat ini ikon itulah yang PKS butuhkan. Tapi jika kader-kader PKS juga sibuk "meladeni" ikon FUI terkait Ahmadiyah, menurut penulis, kerja PKS tidak akan efektif. Jika PKS meladeni isu Ahmadiyah, berarti PKS telah terjebak perangkap yg dibuat oleh Zionis. Secara institusi, penentangan terhadap Ahmadiyah serahkan saja pada FUI. Bagi-bagi kerjaan. Lebih baik PKS fokus saja untuk terus membangun negeri ini. Penulis jadi teringat ungkapan Syaikhuna Dr. Yusuf al Qaradhawy : "Kalaulah tidak ada intervensi dan gangguan dari musuh-musuh Islam, maka kita dapat membangkitkan umat ini hanya dalam waktu 20 tahun saja!"© Jadi rumus yang sekarang terjadi (das sein) adalah "PKS = PKl + FUI"; Kemah Peduli adalah ikon PKS, Tung Desem Waringin adalah ikon PKl, dan Tragedi Monas adalah ikon FUI. Padahal, rumus yang seharusnya berlaku, ini harapan penulis ke depan, adalah "PKS = PKl + PnS"... Wa Allahu A'lam. (a2i) By Mr. Tung Desem Waringin Pidato Anis Matta saat Kemah Peduli PKS DKI 2008 di Cibubur 
|  | dao shu-broadswordplay, changquan-long boxing, nanquan-southern boxing, jianshu-swordplay, sanshou-fighting, jiang shu-spearplay, fu do gao-twin sword |

|  | Jurus Elang, Eagle Style |

|  | Wang Xiao Long, Hei Long, Wang Xiao Hu |

|  | Pembekalan Aleg PKS se-Sulawesi 2007 |
oleh Aulia Agus Iswar
Seorang syaikh bernama Muhammad Abduh pernah memperbandingkan antara kehidupan masyarakat di Eropa dan Amerika dengan kehidupan masyarakat di negeri-negeri muslim. Hingga beliau berujar yang kurang lebih isinya : ”Di negeri barat, aku tidak menemukan orang Islam di sana, tapi aku lihat Islam ada di mana-mana. Sedangkan di negeri-negeri muslim aku banyak melihat ada orang Islam di mana-mana, tapi aku tidak melihat Islam di sana.” Pernyataan di atas, kalau kita cermati, selain merupakan ungkapan keprihatinan juga merupakan pencerdasan membangun. Mengapa pernyataan seperti itu terlontar? Tentunya bukan karena luapan emosional belaka. Beliau melihat bahwa sesungguhnya umat Islam menerapkan sebagian ajaran agamanya. Demikian juga orang-orang barat pun menerapkan sebagian ajaran Islam, baik kita sadari atau tidak. Umat Islam belumlah menerapkan ajaran agamanya secara utuh (kaaffah), masih sebagian. Keislaman orang Islam masih berkisar pada hal-hal ibadah dan keakhiratan (ukhrawi/sacral). Orang-orang Islam itu beriman kepada ajaran Islam dan beribadah kepada Allah SWT, seperti shalat, puasa, zakat, dan haji. Hanya itu. Sedangkan orang-orang kafir juga melaksanakan ajaran Islam yang lain berupa hal-hal keduniaan (profan) seperti kejujuran, kedisplinan, semangat yang tinggi, kerajinan, kerja keras, penguasaan atas ilmu pengetahuan dan teknologi, dsb, meskipun mereka tidak beriman kepada keimanan Islam. Dan hanya itu yang mereka lakukan. Kini kita lihat pula realitas lain yang mendukung pernyataan Syaikh. Islam mengajarkan untuk berdisiplin, tapi kenyataannya banyak kita orang Islam yang tidak disiplin. Islam mengajarkan kejujuran, tapi kenyataannya banyak kita orang Islam yang tidak jujur. Islam sangat melarang korupsi, tapi ternyata yang koruptor kebanyakan orang Islam. Islam memerintahkan kita umatnya untuk rajin, kerja keras, dan bersemangat tinggi. Tapi realitasnya, kita umat Islam banyak yang terjerat kemalasan, tidak mau bekerja keras, semangat rendah, dan mudah menyerah. Islam itu sangat mewajibkan penguasaan akan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tapi kenyataannya virus kebodohan menjalar kuat di tubuh umat Islam. Anehkah hal ini? Ya, keanehan inilah yang dinamakan dengan paradox (bertentangan) itu. Pertentangan antara umat Islam dengan Islam diibaratkan seperti ”antara langit dan bumi” atau ”bainassama’ washshumur”. Islam itu seperti langit yang tinggi menjulang. Sedangkan umat Islam itu seperti sumur yang lebih dalam dari bumi. Sangat jauh jarak keduanya. Bahkan sampai ada ungkapan ”al Islamu mahjubun bil muslimin”, yang artinya ”kebaikan Islam itu terhalangi oleh keburukan orang-orang Islamnya”. Maksudnya, jika ada orang yang Islam yang berperilaku tidak jujur, bodoh dan terbelakang, maka orang selain Islam yang melihatnya akan menganggap kalau Islam itu agama tidak jujur, bodoh, dan terbelakang. Ironis memang. Tapi, memang inilah kenyataannya umat Islam sekarang yang di mana-mana menjadi second-class societry. Dan tentunya, kerja-kerja kitalah untuk, secara bertahap, menyadarkan umat yang sumur menggapai langit-langit Islam. Agar umat Islam itu sinergis dengan ajaran Islamnya. Agar umat Islam tidak lagi menjadi ”penghalang” bagi keindahan ajaran Islam. Dan agar seluruh penjuru dunia Barat dan Timur menyaksikan pesona manusia (khalifah) dan ketinggian peradaban Islam. Ya Allahummaghfirlana...tsumma wanshurna... oleh Aulia Agus Iswar
Allah SWT Berfirman : ”Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (Q.S. an Nur : 55). Melalui ayat ini Allah SWT memberikan janji kemenangan dan kejayaan kepada umat Islam. Dan janji itu bukanlah janji yang diberikan begitu saja, tapi ia membutuhkan syarat. Ada dua syarat, yaitu bahwa kemenangan dan kejayaan hanya akan Allah Berikan kepada mereka-mereka yang beriman dan melakukan ’amal-’amal shalih. Syarat pertama adalah beriman. Syarat kedua adalah beramal shalih. Di sini ditekankan bahwa cita-cita dan impian itu membutuhkan usaha dan perjuangan. Dua syarat di atas diasosiasikan kepada entitas manusianya, yaitu kaum muslimin. Sedangkan kemenangan dan kejayaan diasosiasikan kepada entitas Islam-nya. Sudah menjadi sunnatullah bahwa suatu perubahan akan terjadi ketika dimulai dengan perubahan pada manusia-manusianya. Secara logis, entitas Islam itu akan sangat bergantung dari manusia-manusia muslim yang ada di dalamnya. Rasulullah pun begitu. Beliau melakukan tarbiyyah (pembinaan) dengan mengislamkan terlebih dahulu individu-individu muslim di Makkah. Beliau tanamkan aqidah sebelum menanamkan yang lain. Setelah itu Rasulullah berharakah dan berda’wah. Kemudian Rasulullah berhijrah dan memantapkan sendi-sendi Islam di Madinah dengan da’wah dan harakah. Sampai akhirnya berdirilah daulah Islam di Madinah. Hingga takluklah Makkah dalam pembukaan kota Makkah (fathu makkah). Dan kemenangan serta kejayaan Islam ada dalam genggaman umat Islam. Jadi, Rasulullah pun membina individu-individu terlebih dahulu supaya mereka beriman. Kemudian Rasulullah mengajak mereka beramal shalih dengan melakukan da’wah dan harakah bersama-sama (berjama’ah). Dan ketika syarat-syarat ini terpenuhi, menanglah al Islam hingga meraih kejayaannya hingga sekitar tahun 1000-an M. Pada rentang tahun 1000 s.d. 1200-an M, umat Islam mengalami kemunduran bahkan sempat ”runtuh” untuk pertama kalinya meskipun ilmu pengetahuan umat Islam masih sangat maju; pernah sekitar 3 tahun tidak memiliki Khalifah (tahun 1258 s.d. 1260). Serangan tentara kafir dalam Perang Salib pun terjadi pada masa ini yaitu dimulai tahun 1096 M dan 1099 M bumi Palestina jatuh ke tangan tentara kafir. Pada tahun 1258 M, Tentara Mongol Tartar berhasil membumihanguskan Bani Abbassiyyah. Setelah itu umat Islam bangkit dan meraih kembali kejayaannya di tangan Bani Mamluk dan Bani Utsmaniyyah. Dan ketahuilah bahwa sejak keruntuhan Bani Utsmaniyyah tahun 1924 M, umat Islam runtuh untuk kedua kalinya. Setelah itu umat Islam benar-benar terpuruk dari segala dimensi kehidupan. Dan bermunculanlah kembali harakah-harakah (gerakan-gerakan Islam) yang bertujuan untuk kembali meraih kejayaan Islam dengan melakukan rekonstruksi pemikiran dan gerakan. Harakah-harakah itu mengimplementasikan suatu konsep mega-proyek kebangkitan Islam dalam ranah praktis dan konkret. Dan kini, gema kebangkitan Islam (shahwah Islamiyyah) telah lantang membahana. Dan yang patut kita cermati adalah bahwa kebangkitan Islam itu sangat bergantung dari kebangkitan musliminnya (shahwah al muslimin). Jika manusia-manusia muslim tidak bangkit, maka Islam juga tidak akan pernah bangkit! Maka, binalah pribadi manusia-manusia muslim itu, maka Islam itu akan meraih kemenangan dan menyongsong kejayaannya yang gemilang. Bangkitkan kaum muslimin, maka Islam pun akan bangkit! Aqimul islam fi nafsik, taqim fi baladik. Allahu Akbar!!! oleh Aulia Agus Iswar
Rasulullah pernah memberikan sinyalemen masa depan kepada kita umat Islam. Pada suatu masa nanti, umat Islam akan seperti hidangan di atas meja makan yang diperebutkan dari berbagai penjuru. Apakah karena jumlah kita sedikit pada masa itu? Tidak, kata Rasulullah, jumlah kita justeru banyak. Tapi banyaknya jumlah kita umat Islam pada masa itu laksana buih (gutsai) di lautan yang dihempas-hempaskan oleh gelombang yang besar. Dan sadarilah bahwa masa itu adalah masa yang kini kita umat Islam hidup di dalamnya. Sesungguhnya buih dan gelombang itu telah ada sejak manusia pertama tercipta, hingga sekarang, dan akan selalu ada sampai qiyamah nanti. Gelombang menginterpretasikan golongan yang memiliki kejayaan dan hegemoni. Sedangkan buih menginterpretasikan golongan yang dihegemoni. Eksistensi ruh buih dan gelombang ini akan saling mengisi lorong-lorong panji kebenaran (al haq) dan panji kebathilan (al bathil) secara bergantian. Ada masanya buih itu adalah al haq dan gelombang itu adalah al bathil. Ada masanya pula buih itu adalah al bathil dan gelombang itu adalah al haq. Dulu, Islam adalah buih. Kemudian buih itu berkembang menjadi gelombang yang besar. Kemudian gelombang yang besar itu hancur berkeping-keping dan kembali menjadi buih. Dan apakah masa buih kini sudah akan berakhir? Akankah Islam kembali menjadi gelombang yang besar itu? Pasti! Ini adalah keniscayaan! Tapi, bagaimana langkah-langkah besar untuk merubah buih tadi menjadi gelombang yang besar dan dahsyat? Hanya ada satu jalan. Jika kaum muslimin hanya ingin menjadi buih, maka Islam juga akan menjadi buih. Karenanya, manusia-manusia muslim harus menjadi gelombang, dan peradaban Islam akan menjadi gelombang. Manusia buih adalah manusia-manusia kerdil. Dan apa yang bisa diharapkan dari manusia-manusia buih? Tidak ada, karena kerja mereka hanyalah kerja-kerja kecil yang tidak terarah. Manusia gelombang adalah manusia-manusia besar. Apa yang bisa diharapkan dari manusia-manusia besar? Banyak, banyak sekali. Karena kerja-kerja mereka adalah kerja-kerja besar. Manusia gelombang akan membangun peradaban gelombang yang besar. Yang dahsyat, yang mampu memakmurkan dan mensejahterakan dunia. Yang hebat, yang gema seruannya akan lantang membahana. Yang juga akan mengkerdilkan kebathilan. Yang menghempas-hempaskan kebathilan laksana buih dan sampah di lautan lepas. Dan yang menghancurkan hegemoni kebathilan. Karena kebathilan itu pasti lenyap dengan datangnya kebenaran. Lalu bagaimana dengan kita? Silakan memutuskan. Pilihan hanya ada dua, tidak ada lagi selainnya. Menjadi sang buih!? Atau menjadi sang gelombang!? Dan pilihan seorang pahlawan pasti jatuh kepada pilihan “sang gelombang”. Masalahnya sekarang, beranikah kita menjadi seorang pahlawan !? Innallaha Ma’ana!!!  | Guestbook | |
 |
salam kenal juga, mbak. thx dah mampir ke site yg sederhana ini... |
 |
hai salam kenal...mampir yah... |
 |
Do'a malaikat Jibril menjelang Ramadhan " "Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut: * Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada); * Tidak berma'afan terlebih dahulu antara suami isteri; * Tidak bermaafan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya. Maka Rasulullah pun mengatakan Amiin sebanyak 3 kali. Dapatkah kita bayangkan, yang berdo'a adalah Malaikat dan yang meng-amiinkan adalah Rasullullah dan para sahabat , dan dilakukan pada hari Jumaat. Oleh karena itu SAYA TERLEBIH DAHULU MEMOHON MAAF atas segala kesalahan, baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Semoga kita dapat menjalani ibadah puasa dengan Ridho Allah SWT..Amien… |
 |
Wah bisa jadi altenatif nge-Junk nih, habis MP Ai lagi sepi posting hi...hi...hi.... |
 |
alo juga, ul. postingannya serius, ni, ul. =) kapan2 posting ttg gerakan kungfu dunk. hehehe. |
 |
nggak serius kok nanya lowongannya ul, becanda, kok, lo jawabnya serius sih, hehehe. |
 |
partai islam di indonesia semua sama saja...merasa paling benar....merasa diridhoi Alloh SWT...Merasa sudah di restui ummat....,Tapi Kenyataannya???, Semuanya pada jalan masing2, koalisi hanya sebuah fatamorgana yang basi...,,,,satu2nya jalan supaya indonesia bisa menjalankan syariat Islam Full Version, adalah memulai untuk saling memahami satu sama lain(Antar ummat Islam), Jangan sendiri2, Mencoba untuk meredam: Hasad dengki, emosi,egoisme, dan Berburuk sangka,jauhi riya, Konsolidasi pergerakan lintas paham/mahzab, PKS emang no:1 dalam hal pergerakan islam di indonesia,, tapi kalo bisa juga ikut menggandeng golongan2 islam yg laen, jangan cuma yg segolongan (Egypt Oriented) Sekian Nasihat dari Presiden BEM FIB UI Periode Zaman Fana...
|
 |
skrg nongkrongnya di utan kayu om?..... jadi intel atau dah pindah haluan.....hihi |
 |
utan kayu emang mau pindah ke jalan kalahari Ragunan, tapi ga semnua pindah ke sana, paling teaternya. iya, memang ada lowongan, tp blm tau lowongan apa aja yg dibutuhkan. coba ntar ditanya dulu... |
 |
eh, utankayu udah gak utan kayu? kabarnya pindah ya ul? ada lowongan gak? hehehe |
|
|